Kamu, orang yang membuatku nyaman, dan bahagia. Selalu menjagaku tanpa lelah. Tetapi rasa ini sungguh menyiksaku, menunggu kepastian tanpa balasan. Dia sahabatku, tapi dia juga nafasku. Sejak pertama aku kenal dia, tatapannya itu masih teringat jelas di memoriku, dia selalu menjagaku kapanpun senyumannya membuatku tenang dan damai dan dimanapun, setiap aku down dia selalu memegang erat tanganku dan membuatku bangkit lagi. Mungkin aku terlalu egois terlalu berharap untuk memilikinya, tapi aku tak bisa selalu berpura-pura untuk tidak mencintainya. Tapi disisi lain kalau emang kita jadian aku TAKUT, aku sangat takut kehilangan dia, aku gamau dia hilang dari mata dan hatiku. Tapi di sisi lain juga aku pengen banget milikkin dia, supaya semua orang tau dia milik aku bukan milik orang lain. Aku selalu menahan rasa sakit ini ketika teman-temanku menanyakan kedekatan ku dengan dia selama ini, aku sakit ketika aku harus bilang “ bukan, dia hanya temanku.” Dan mereka pun menjawab “padahal udah cocok banget, jadian aja.” Aku hanya membalas dengan senyuman. Tapi perlahan masalah itu sudah menjadi hal yang biasa untukku. Karna dia mengajarkanku untuk bertindak dan bersikap yang dewasa. Aku ga berani bilang kalua dia adalah segalanya buat aku, karna aku takut kehilangan nya. Aku berusaha menjadi wanita yang dewasa yang ingin selalu berfikiran positif, jadi aku kadang berpikir kalau hubungan aku sama dia sekarang, aku takut jika kita pacaran lalu putus dan gak jauh lebih bahagia bisa deket lagi, mending bertemen kaya sekarang dan dia gak akan ninggalin aku, kecuali dia mempunyai cintanya yang baru. Dia seseorang yang paling berharga buat aku sekarang, andaikan aku mampu berkata di depannya bahwa aku sayang dia dan gamau kehilangan dia mungkin aku akan jauh lebih tenang, tapi beberapa kali aku mencoba untuk mengatakannya malah yang ada hanya gemetaran yang ku rasa, mungkin belum saatnya aku berkata seperti itu. Tawa dan candanya adalah warna di hidupku, aku tak ingin semuanya berlalu begitu cepat. Dia juga adalah salah satu alesan yang membuatku betah di masa SMA yang dulu yang aku anggap biasa aja. Aku sekarang masih duduk manis di sampingnya menjadi teman biasa, entah kapankah posisi itu berubah, akupun tak tahu. Biarkan waktu yang menjawab nya. Waktu terus berlalu, begitu pun kedekatan ku pun dengan dia yang hanya sebagai teman. Sebenarnya di hati ku yang terdalam aku tidak menginginkan keadaan ini terus terjadi, aku ingin menyatakan isi hati ku yang sesungguhnya pada dia. Tapi, yang ku lihat, dia tidak menganggap ku lebih dari sahabat, bahkan pernah sekali terlontar dalam gurauan nya kalua dia menanggap ku sudah seperti saudara, seperti kakak dan adik. Karna itulah aku semakin tidak berani mengutarakan isi hati ku kepada dia. Resahku biarlah berlalu, biarlah ku pendam dalam hati ku, biarkan ini menjadi kenangan manis dalam hidup ku. Kisah ini akan ku kenang selalu sepanjang hidup ku karena aku pernah membuka pintu hati ku untuk seseorang yang aku kagumi, tetapi rasa ini bertepuk sebelah tangan. Biarlah, biarkan ini menjadi hal yang akan selalu ku ingat…